Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA XI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

UNSUR EKSTRINSIK CERPEN

Dalam karya sastra, nilai-nilai pendidikan yang disampaikan penciptaannya dimuat didalamnya. Hasil karya sastra, pengarang tidak hanya ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya saja tetapi secara implisit juga mempunyai maksud dorongan, mempengaruhi pembaca untuk memahami, menghayati dan menyadari masalah serta ide yang diungkapan termasuk nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalam karya sastra tersebut. Pembaca bisa mengambil nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalamnya.
Pembaca karya sastra bisa mengambil pelajaran serta hikmah, nilai-nilai dan contoh-contoh dari karya sastra yang dibacanya dengan penuh kesadaran sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dan pengajaran sastra jika ditangani dengan bijaksana, akan membawa kita dan anak-anak didik ke dalam kontak dengan pikiran-pikiran dan kepribadian-kepribadian besar dunia. Para pendidik dan pemikir besar dari berbagai zaman.
Unsur kepribadian dapat dilatih melalui pendidikan dan pengajaran sastra, meliputi :
1. Penginderaan (Sensory)
Dalam pengambangan aspek ini studi sastra dapat digunakan untuk memperluas jangkauan dari semua unsure penginderaan klasik yaitu pengliatan, pedengaran pengecap, pembau, sentuhan, perabaan, pembeban.
2. Kecerdasan (intellect)
Bentuk pendidikan yang paling bernilai adalah yang telah mengajarkan para siswa untuk memecahkan masalah bagaimana memperoleh kebenaran-kebenaran yang memungkinkan. Untuk dapat menguji derajat atau peringkat keberhasilannya. Adapun sastra mengandung hal-hal yang menjadi tuntutan dalam dunia pendidikan tersebut.
3. Perasaan (feel)
Sastra memberikan kepada kita sesuatu cakupan situasi dan kegawatan yang luas yang seakan-akan menstimulasi beberapa jenis respondensi emosional dan juga bahwa dalam keseluruhannya penulis sastra lazim menyajikan situasi-situasi itu dalam cara-cara yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi, mengkaji dalam perasaan kita dalam suatu cara kemanusiaan yang layak.
4. Kesadaran Sosial
Sastra berfungsi menghasilkan suatu kesadaran konprehensip terhadap orang lain. Penulis-penulis sastra modern, termasuk penulis sastra Indonesia, telah banyak berbuat untuk merangsang minat dan simpati pada masalah-masalah kegagalan, ketidak beruntungan, ketertindasan, ketidakberhasilan, pengucilan. Rasa hina dan sakit hati, yaitu mereka yang memerlukan protes.
5. Kesadaran Religius
Baik suka maupun tidak suka, apakah kita tahu betul atau tidak, segala pikiran dan perbuatan kita secara rutin didasarkan beberapa asumsi positif dan semua kecerdasan manusia pada abad ini, termasuk manusia Indonesia akan selalu didasarkan pada pragmatisme kehidupan mereka yang lebih daripada diatas landasan rohaniah atau spiritual yang rapuh.
Berdasarkan uraian diatas, nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”dapat dikaji dan dianalisis.
Unsur Ekstrinsik novel adalah unsur yang berasal dari luar cerita. Meliputi nilai religi, nilai susila atau nilai estetika serta nilai sosial dan sebagainya.
Karya sastra mengandung nilai-nilai pendidikan yang tergantung pada pengertian yang didapat pembaca lewat karya sastra yang dipahami. Nilai-nilai pendidikan tersebut didapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” meliputi :
1. Nilai Religi/ Nilai Agama
Agama adalah risalah yang disampaikan Allah kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dan tanggung jawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya.
Agama dan pandangan hidup kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan serta sikap menerima terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bahwa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, batin atau jiwa. Kesadaran religius dalam upaya mengembangkan kepribadian melalui pendidikan dan pengajaran.
Nilai religius dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” antara lain :
Salah satu keindahan itu adalah saya semakin menghargai gaungan gema adzan. Ketika masih berada ditanah air, dimana suara adzan sangat mudah di dengar.
Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardlu diberi ganjaran 700X lipat. Puasa fisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun. Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir.
Terbukanya pintu surga Al-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu. (Lizsa, 2007: 188)
Kegiatan para tokoh memberi nilai religius dapat terlihat dalam kutipan berikut:
…..Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengajian keliling di daerahnya….(Lizsa, 2007: 17-18)
Di Nagoya kota tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara bergantian tiap bulannya. (Lizsa, 2007: 192)
2. Nilai Estetika
Semua karya sastra atau karya seni memiliki keindahan apabila terdapat keutuhan antara bentuk dan isi, keseimbangan dan keserasian penampilan dari karya seni yang lain. Nilai keindahan akan tampak lebih relatif, jika yang kita perhatikan adalah penilaian atau penghargaan terhadap sastra itu.
Sastra sebagai cabang seni akan melengkapi sentuhan estetis dengan mengembangkan aspek rasa ini demi sempurnanya aspek keindahan dalam sastra, yang dihubungkan dengan tehnik cerita, gaya bahasa, unsur-unsur yang lain sebagai variasinya. Nilai estetika adalah nilai kesopanan dan budi pekerti atau akhlak. Nilai susila adalah yang berkenan dengan tata krama atau disebut beradab.
Nilai susila atau estetika dapat terlihat dalam kutipan berikut :
“Saya mendengar itu hanya bisa ikut tersenyum geli. Tapi tidak demikian dengan ibu dari sang anak tersebut. Mimik sang ibu terlihat kaget. Ia langsung mendekati saya dan berkata,” Maaf…maafkan anak saya…maaf ,”ujar sang ibu.
Bagi setiap orang yang melakukan suatu kesalahan hendaknya segera mengucap maaf, itu adalah cara berperilaku yang baik. Terdapat kata membungkukkan badan, bagi orang Indonesia terutama Jawa itu menunjukkan sikap yang sopan dan menghormati orang lain.
3. Nilai Sosial
Keadaan seseorang sebagai individu tidak terlalu penting. Tetapi individu ini secara bersama membantu masyarakat yang selaras akan menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masing-masing individu. Manusia tidak bisa lepas hidup sendiri terpisah dari yang lainnya. Lebih-lebih bila seseorang belum mampu menyelesaikan kebutuhan jasmaninya sendiri walaupun itu yang paling sederhana, seperti seorang anak kecil yang belum mampu mengerjakan sendiri
untuk mencukupi kebutuhannya seperti misalnya mandi, makan, berpakaian, dan sebagainya tanpa bantuan orang lain baik itu ayah, ibu maupun kakaknya.
Dalam novel ini banyak terlihat interaksi sosial yang terjadi. Antara lain : suasana kebersamaan, saling membantu, menghargai, menghormati dan menyayangi satu sama lain dalam mengerjakan sesuatu akan menghasilkan hal positif. Hal inilah yang dinamakan nilai kerukunan atau nilai sosial.
Manusia perlu dihargai, dihormati dan diperlakukan secara layak. Sudah sepantasnya kita menghargai jerih payah dan keinginannya untuk membantu tugas rumah tangga meski tanpa adanya limitasi pekerjaan. (Lizsa, 2007: 74)
4. Nilai Moral
Moral merupakan tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari nilai baik-buruk, benar dan salah berdasarkan adapt kebiasaan dimana individu itu berada.
Pesan-pesan moral yang terdapat pada novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” ini bisa diambil setelah membaca dan memahami isi ceritanya. Penulis menemukan segi positif dan negatifnya. Kedua hal itu perlu disampaikan, sebab kita dapat memperoleh banyak teladan yang bermanfaat. Segi positif harus ditonjolkan sebagai hal yang patut ditiru dan diteladani. Demikian segi negatif perlu juga diketahui serta disampaikan kepada pembaca. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak tersesat, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Seperti halnya orang belajar. Ia akan berusaha untuk bertindak lebih baik jika tidak tahu hal-hal yang buruk dan tidak pantas dilakukan.
»»  READMORE...
UNSUR INTRINSIK CERPEN

3.1.1 Alur/ Plot
Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya ditumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatuan yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan serta mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna untuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus untuk menekuninya.
Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembunyi dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti jalan cerita maka dapat ditemukan alur.
Alur bisa dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif bersifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersifat non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Selain yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik (back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang.
Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi, dengan sambung-sinambungnya peristiwa ini terjadilah sebuah cerita. Sebuah cerita bermula dan berakhir. Antara awal dan akhir ini lah terlaksana alur itu. Tentu sudah jelas, alur itu mempunyai pula bagian-bagiannya yang sederhana dapat dikenal sebagai permulaan, pertikaian dan akhir.
Walaupun cerita rekaan berbagai macam contoh, ada pola-pola tertentu yang hampir selalu terdapat dalam sebuah cerita rekaan, yang disebut struktur umum alur, yang digambarkan sebagai berikut :
1. paparan (exposition)
Awal 2. rangsangan (inciting moment)
3. gawatan (rising action)
4. tikaian (conflict)
Tengah 5. rumitan (complication)
6. klimaks (climax)
7. leraian (falling action)
Akhir 8. selesaian (denouement)
3.1.2 Penokohan/ Perwatakan/ Karakter
Penokohan merupakan proses yang digunakan pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh pelaku cerita serta sifat atau gambaran yang berkenaan dengannya.
Tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peran yang berbeda-beda.
Menurut fungsinya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu :
Tokoh Sentral yaitu tokoh yang menentukan gerak dalam suatu cerita.
Tokoh Utama yaitu tokoh yang mendukung suatu cerita baik tokoh protagonis maupun antagonis.
Tokoh Pembantu yaitu tokoh yang hanya berfungsi melengkapi terjadinya suatu cerita.
Menurut perannya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu :
Tokoh Protagonis yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca.
Tokoh Antagonis adalah pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
Tokoh Tritagonis adalah pelaku yang membantu dalam suatu cerita, baik tokoh protagonis maupun antagonis.
Penyajian watak dan tokoh serta penciptaan citra tokoh terdapat beberapa metode, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada kalanya Pengarang melalui penceritaan mengusahakan sifat-sifat tokoh, pikiran, hasrat dan perasaannya. Kadang menyisipkan komentar pernyataan setuju tidaknya akan sifat-sifat tokoh itu.
Secara garis besar dapat mengenal watak para tokoh dalam sebuah cerita yaitu melalui apa yang diperbuatnya melalui ucapan-ucapannya, melalui penggambaran fisik seorang tokoh, melalui pikiran-pikirannya dan melalui penerangan langsung dari pengarang.
Penokohan adalah penampilan watak atau karakter para tokoh oleh pengarang.
Penampilan watak yang dilakukan oleh pengarang ada tiga macam cara yaitu :
Cara Analitik yaitu pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh-tokohnya. Misalnya, pengarang menyebutkan watak tokoh yang pemarah, otoriter, sombong, kasar, dan sebagainya.
Cara Dramatik yaitu watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, perilaku tokoh, bahkan penampilan fisik, lingkungan atau tempat tokoh, cara berpakaian dan pilihan nama tokoh, dan sebagainya.
Cara Campuran yaitu gambaran watak tokoh menggunakan cara Analitik dan Dramatik secara bergantian.
3.1.3 Latar/ Setting
Latar adalah tempat suatu peristiwa dalam cerita yang bersifat fisikal biasanya berupa waktu, tempat dan ruang. Termasuk didalam unsur latar adalah waktu, hari, tahun, periode sejarah, dan lain-lain.
Latar cerita mencakup kerengan-keterangan mengenai keadaan sosial dan tempat dimana peristiwa itu terjadi.
Fungsi latar selain memberi ruang gerak pada tokoh juga berfungsi untuk menghidupkan cerita. Dalam latar ini, pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang selain berkaitan untuk membangun cerita yang utuh.
Kemunculan latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh. Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak, membutuhkan keadaan untuk menunjukkan kehadirannya.
1. Waktu
2. Tempat
3. Suasana
3.1.4 Gaya bahasa
Bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda. Ia tidak hanya sebagai alat penyampaian maksud pengarang, melainkan juga sebagai penyampaian perasaan. Pengarang dalam menyampaikan tujuannya dapat menggunakan cara-cara lain yang tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cara-cara tersebut misalnya dengan menggunakan perbandingan-perbandingan, menghidupkan benda-benda mati, melukiskan sesuatu keadaan dan menggunakan gaya bahasa yang berlebihan.
Usaha atau tindakan yang dilakukan sastrawan agar pendengar atau pembaca tertarik dan terpengaruh oleh gagasan yang disampaikan melalui tuturnya dengan pemilihan bahasa, pemakaian ulasan, dan pemanfaatan gaya bertutur Bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa tak baku. Bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Sementara gaya bahasa antara lain meliputi :
Personifikasi
Perbandingan Metafora
Alegori
Perumpamaan
Majas Hiperbola
Pertentangan Ironi
Litotes
Metonimia
Pertautan Alusio
Eufimisme
Sinekdok
Parsprototo Totemproparte
3.1.5 Amanat
Amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang. Amanat dipakai pengarang untuk menyampaikan tanggung jawab problem yang dihadapi pengarang lewat karya sastra. Amanat merupakan pesan atau gagasan yang mendasar yang dituangkan pengarang dalam karyanya untuk memecahkan peristiwa yang terjadi.
Istilah amanat berarti pesan. Amanat cerita merupakan pesan pengarang kepada pembaca atau publiknya. Pesan yang hendak disampaikan mungkin tersurat. Tetapi mungkin juga tidak jelas, samara-samar atau tersirat.
3.1.6 Tema
Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita tetapi mau mengatakan suatu hal pada pembacanya. Sesuatu yang ingin dikatakan itu bila suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau karakter terhadap kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semua didasari oleh ide dari pengarang.
Adapun tema dari novel ini ialah keteguhan hati dan pendirian agama dalam negeri perantauan.
3.1.7 Sudut Pandang/ Point Of View
Sudut Pandang ialah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Sudut Pandang merupakan hasil karya seorang pengarang sehingga terdapat pertalian yang erat antara pengarang dengan karyanya.
Sudut Pandang/ Point Of View menyarankan pada cara sebuah cerita kisahan. Ia merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pusat pengisahan meliputi : narrator omniscient,narrator observer, narrator observer omniscient, serta narrator the third person omniscient.
Sudut Pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam 2 macam : persona pertama, gaya “aku”, dan persona ketiga, gaya “dia”.
Pusat pengisahan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam cerita, atau darimana dia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu.
»»  READMORE...

PUISI

PUISI

Puisi yaitu salah satu bentuk/ ragam sastra yang diwujudkan dengan kata-kata/bahasa yang indah dan padat yang mengandung nilai-nilai.
Jika dilihat dari isinya puisi terdiri atas berbagai macam diantaranya yaitu Elegi, Balada dan Ode. Jika dilihat berdasarkan zamannya, puisi dikelompokkan menjadi 3 yaitu puisi lama, puisi baru dan puisi modern.
Puisi lama biasanya masih sangat mementingkan masalah rima, irama dan aturan-aturan yang lain. Yang termasuk puisi lama yaitu syair, pantun, gurindam dan seloka. Puisi baru sudah mulai meninggalkan aturan-aturan dalam puisi lama. Hanya saja
dalam puisi baru masih memperhatikan jumlah baris dalam tiap baitnya. Karya sastra puisi baru antara lain: distikon, tersina, kuartren dan sebagainya.
Puisi modern sudah jelas dari segala aturan seperti yang mengikat pada puisi lama. Puisi modern biasanya mengutamakan isi daripada bentuknya. Misalnya rima, irama dan yang lainnya menjadi aturan dalam puisi lama tidak lagi diperhatikan dalam penyusunan puisi modern. Meskipun dalam puisi modern telah bebas dari segala aturan seperti yang mengikat pada puisi lama. Tetapi ia tetap berbentuk puisi yang memiliki perbedaan dengan karya sastra yang lain. Karya sastra puisi tetap menggunakan bahasa yang singkat dan padat.

Meja Kayu
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan.
Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya.
Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan
semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang suami. "Aku sudah bosan
membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun
membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan
mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek.
Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun hanya memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang
memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang
membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah
dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu,
dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul.
Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka.
Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti,
ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama
di meja makan.Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh,
makanan yang tumpah, atau taplak yang ternoda.
Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.

Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya.
Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Terima kasih telah membaca
Hope you are well and please do take care.

»»  READMORE...

CERPEN

CERPEN

Cerpen mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika masa penjajahan jepang. Pada masa itu segala sesuatu dituntut serba singkat dan cepat. Karena pengaruh suasana, maka dalam mengutarakan perasaannya pengarang juga mengikuti keadaan. Pengarang mengutarakan segala sesuatu secara singkat dan memilih medianya yaitu bentuk cerpen.
Cerpen singkatan dari cerita pendek. Oleh karena itu bentuknya yang pendek, maka yang ditampilkan oleh cerpen hanyalah sebagian saja dari kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita.
Sebuah cerpen pada dasarnya menuntut adanya perwatakan yang jelas. Tokoh merupakan pusat sorotan dalam cerita. Unsur penokohan dalam cerpen terasa lebih dominan, daripada unsur yang lain. Dengan membaca cerpen seorang pembaca akan memahami karakter tokoh cerita yang dimiliki. Jadi, membaca cerpen tidak sekedar mengetahui jalan cerita tetapi mengetahui manusia dengan sifat-sifatnya.
Suatu hasil sastra dapat dikategorikan ke dalam cerita pendek harus dilihat dari ruang lingkup permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut. Biasanya cerpen hanya akan menampilkan suatu pokok permasalahan saja dalam cerita. Karena permasalahan yang ditampilkan hanya satu atau permasalahannya tunggal, maka tidak memungkinkan tumbuhnya digresi dalam cerita pendek. Cerpen yaitu kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominant tentang suatu tokoh dalam latar dan satu situasi dramatik.
Predikat pendek pada kata cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu atau sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi, sebuah cerita pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek apabila ruang lingkup permasalahan yang persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cerpen hanya menceritakan permasalahan tunggal. Mengenai jumlah halaman tidak akan berpengaruh banyak terhadap jenis karya sastra ini. Cerita yang pendek belum tentu cerita pendek dan cerita agak panjang pun kadang-kadang dapat dikategorikan sebagai cerpen jika permasalahannya tunggal. Oleh karena permasalahannya tunggal, maka cerpen cenderung pendek.
Perbedaan antara Novel dan Cerpen :
Novel : Terjadi konflik batin
Cerpen : Tidak harus terjadi
Novel : Perwatakan digambarkan secara detail
Cerpen : Perwatakan digambarkan secara singkat
Novel : Alur lebih rumit
Cerpen : Akhir ceritanya sederhana
Novel : Latar lebih luas dan waktunya lebih lama
Cerpen : Latar hanya sebentar dan terbatas
Novel : Novel lebih panjang karangannya daripada cerpen
Cerpen lebih pendek karangannya
Novel : Unsur-unsur cerita dalam novel lebih kompleks dan beragam dibandingkan cerpen
Cerpen : Unsur cerita dalam cerpen relative sederhana dan pasti tunggal
Novel : Novel minimal halamannya adalah 100 halaman
Cerpen : Cerpen halaman maksimal 30 kuarto
Novel : Jumlah kata dalam novel minimal 35.000 kata
Cerpen : Jumlah kata dalam cerpen maksimal 10.000 kata
Novel : Lama untuk membaca novel kira-kira 30-90 menit
Cerpen : Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen hanya 10 menit
Persamaan antara Novel dan Cerpen :
1. Keduanya sama-sama prosa baru
2. Mengandung unsur intrinsik
3. Sama-sama termasuk karya sastra
4. Sama-sama termasuk cerita fiksi
»»  READMORE...

NOVEL

Istilah tentang novel antara Negara satu dengan Negara lain beragam. Dalam Bahasa jerman disebut Novelle. Sedangkan dlam bahasa perancis disebut Nouvelle. Kedua istilah tersebut dipakai dalam pengertian yang sama yaitu prosa yang agak panjang dan sederhana karena hanya menceritakan maksud kejadian yang memunculkan suatu konflik yang mengakibatkan adanya perubahan nasib pelakunya.
Beberapa pendapat mengenai novel dikemukakan oleh para ahli sastra. Namun sampai saat ini belum ada patokan yang dapat diterima oleh semua pihak.
Novel dalam arti umum berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam. Novel merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, dirasakan dalam bentuk tertentu dengan pengaruh tertentu atau ikatan yang dihubungkan dengan tercapainya gerak-gerik hasrat manusia.
Novel memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Menceritakan sebagian kehidupan yang luar biasa
2. Terjadinya konflik hingga menimbulkan perubahan nasib
3. Terdapat beberapa alur atau jalan cerita
4. Terdapat beberapa insiden yang mempengaruhi jalan cerita
5. Perwatakan atau penokohan dilukiskan secara mendalam
Novel ialah suatu cerita dengan alur panjang mengisi satu buku atau lebih yang Mengarang kehidupan manusia yang bersifat imajinatif The Advanced Meaner Of Current English, menceritakan kehidupan manusia hingga terjadinya konflik yang dapat menyebabkan perubahan nasib bagi para pelakunya.
Manfaat dari membaca novel adalah memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Selain itu dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui, serta dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya. Hasil cipta sastra akan selalu berbicara masalah manusia dengan segala permasalahan hidupnya, baik hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya maupun manusia dengan penciptaNya.
Hasil karya sastra novel mengandung keindahan yang dapat menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian, menyegarkan perasaan pembaca, pengalaman jiwa yang terdapat dalam karya sastra memperkaya kehidupan batin manusia khususnya pembaca.
»»  READMORE...

KARYA SASTRA



Kata sastra dapat ditemukan diberbagai aspek dan konteks yang berbeda. Sastra merupakan istilah yang luas. Sastra dapat dipandang sebagai sesuatu hasil yang dapat dinikmati, sastra juga merupakan suatu yang erat hubungannya dengan ciri-ciri khusus suatu bangsa atau kelompok masyarakat.
Kata kesusastraan berasal dari bahasa sansekerta. Kata kesusastraan terbentuk dari kata susastra dan imbuhan ke-an. Sedangkan kesusastraan itu sendiri masih dapat dipecah lagi yaitu su dan sastra yang berarti tulisan atau karangan. Susastra berarti tulisan atau karangan yang indah dan baik, berimbuhan ke-an berarti segala hal atau sesuatu yang berhubungan dengan sastra. Kata kesusastraan dapat diartikan sebagai segala nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
Sastra adalah ciptaan manusia kedalam bentuk sastra, baik tulisan maupun lisan yang dapat menimbulkan rasa senang. Dalam Teory Of Literature karangan Rene Wellek dan Austin Werren dalam teori kesusastraan menyatakan ciri-ciri atau sifat-sifat kesusastraan antara lain: fiction (rekaan), imagination (daya angan) dan invention (daya cipta).
Dalam membaca dan memahami karya sastra kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal. Pada satu pihak sastra merupakan keseluruhan yang bulat, otonomi, disisi lain tidak berfungsi dalam situasi kosong.
Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan tentang pengertian sastra. Sastra adalah karya imajinatif bermedia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya dominan.
Sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyanya adalah tentang manusia dengan segala macam perilakunya. Kehidupan manusia tersebut diungkapkan lengkap dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat menambah kekayaan batin setiap hidup dan kehidupan ini. Karya sastra mampu menjadikan manusia memahami dirinya dengan kemanusiaannya.
Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini terkandung nilai atau hikmah yang dapat kita petik manfaatnya. Untuk dapat menangkap nilai-nilai tersebut diperlukan kepekaan dan kearifan. Bagi orang awam hal yang mungkin tidak dapat menjadi semangat berarti bagi pengarang. Sesuatu yang dianggap tidak berarti oleh masyarakat itu diolah oleh pengarang kemudian diwujudkan kembali dalam bentuk karya sastra.
Karya sastra memiliki fungsi ganda yaitu sebagai hiburan sedangkan disisi lain berusaha memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan.
Fungsi karya sastra bagi hidup dan kehidupan ke dalam lima kelompok, yaitu :
1. Fungsi Rekreatif yaitu karya sastra dapat memberikan rasa senang, gembira serta menghibur para pembaca.
2. Fungsi Estetis yaitu karya sastra itu indah, secara otomatis karya sastra akan memberi keindahan bagi penikmatnya.
3. Fungsi Didaktif yaitu karya sastra yang baik biasanya mampu mengarahkan dan mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya.
4. Fungsi Moralitas artinya karya sastra yang baik biasanya selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Dengan begitu pembaca akan tahu bagaimana moral yang baik dan buruk bagi dirinya.
5. Fungsi Religiusitas yaitu karya sastra mengandung ajaran-ajaran agama yang harus dan wajib diteladani oleh para penikmatnya.
Sasaran karya sastra bukanlah pikiran penikmat, melainkan perasaan. Karya sastra tidak bermaksud agar penikmat tahu yang dikomunikasikan, melainkan mengajak apa yang dirasakan pengarang.
Karya sastra merupakan kehidupan buatan atau rekaan sastrawan. Kehidupan di dalam karya sastra adalah kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulisnya, latar belakang pendidikannya, keyakinannya, dan sebagainya.
Karya sastra merupakan wujud ungkapan perasaan pengarang. Jika dilihat dari sifatnya, sastra merupakan karangan fiksi atau non ilmiah. Seperti juga karangan lain, karya sastra dibuat pengarang dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada pembacanya. Hanya karena sifat dasarnya yang berbeda dengan karangan lain, maka sesuatu yang dikomunikasikan tersebut juga berbeda.
»»  READMORE...

MAJAS

MAJAS
A.pengertian dan macam majas
Majas adalah bahasa kias yangdipergunakan untuk menimbulkan kesan imajinatif atau menciptakan efek tertentu bagi pembaca atau pendengarnya.
Majas terdiri atas:
1.majas perbandingan
Majas perbandingan meliputi:
1)asosiasi atau perumpamaan
Adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda,tetapi sengaja dianggap sama.majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai,bagaikan,seumpama,seperti,dan laksana.
Contoh:
(a)semangatnya keras bagaikan baja
(b).mukanya pucat bagaikan mayat
2)Metapora
Adalah majas yang perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.
Contoh:
(a).dia dianggap anak emas majikannya.
(b).perpustakaan adalah gudang ilmu.
3)personifikasi
Adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
(a).badai mengamuk dan merobohkan rumah.
(b).ombak berkejar-kejaran di tepi pantai.
4)Alegori
Adalah majas perbandingan yang bertautansatu dan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh.alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:cerita kancil dan burung gagah.
5)simbolik
Adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
(a)bunglon,lambang orang yang tak berpendirian.
(b)melati,lambang kesucian.
(c)teratai,lambang pengabdian.
6)Metonimia
Adalah majas yang menggunakan ciri atau label dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.
Contoh:
(a) .Dikantongnya selalu terselip gudang garam.(maksudnya rokok gudang garam)
(b) setiap hari ayah selalu menghirup kapal api.(maksudnya kopi kapal api)
7)sinekdokke
Adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya.majas ini terbagi dua;
a) pars pro toto,yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:(a) .Hingga detik ini dia belum kelihatan batang hidungnya.
(b).Perkepala mendapat Rp.300.000.
b).totem pro parte,yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:(a).dalam pertandingan bola indonesia melawan argentina.
(b).indonesia akan mencari idolanya besok lusa.
B . Majas pertautan
Majas pertautan terdiri atas :
1).alusio
Adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui berasama.
Contoh :(a).pada 20 mei musim kemarau datang (karya suhendra)
2)elipsis
Majas yang didalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kalimat.
Contoh:biarkan kapalnya tenggelam dan hilang di tengah laut.
3)inversi
Adalah majas yang dinyatakan oleh pengubahan susunan kalimat.
Contoh:kuraba mitlatiur jepang dari baja hitam
C.majas pertentangan
Majas pertentangan terdiri atas :
1).paradoks
Adalah majasyang mengandung pertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh:(a).aku merasa sepi ditempat yang ramai itu.
(b).hatiku merintih disaat hingar bingar acara yang sedang berlangsung.
2).litoses
Adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya.tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
(a).mengapa kamu meminta tolong kepada orang yang bodoh
seperti saya .
(b).berdandanlah seadanya hanya dengan memakai bedak saja.
3).antitesis
Adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan artinya.
Contoh:(a).kaya miskin,cantik jelek,sama saja manusia dimata allah.
(b).besar kecil,tua muda,tinggi pendek,ikut meramaikan HUT RI.
4).hiperbola
Adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian.
Contoh:(a).tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
(b).matanya melotot bagai senter.
4.pengulangan
Majas pengulangan terdiri atas:
1).antanaklasis
Adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.
Contoh:pintu-pintu langit,rimba sepi dan kejadian.
(dari mimpi karya abdul w.m.)
2).kiasmus
Adalah majas yang berisi pengulangan dan sekaligus merupakan inversi.
Contoh:karena malam bukan siangnya gelombang dan siang bukan malamnya jalang.
(dari orang perahu karya sutan iwan soekri mukri)
3).repetisi
Adalah majas perulangan kata sebagai penegasan yang di runut dalam baris yang sama.
Contoh:dalam kesunyian malam waktu tidak berpawang tidak berkawan.
(dari di bawa gelombang sanusi pane)
4).aliterasi
Adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang permulaannya sama bunyinya.
Contoh:Dengarlah dendang durjana
Lelaki tua putra madura
(dari lagu nelayan selat madura liniya djowustin hasugian)
5).pararelisme
Adalah majas perulangan kata yang disusun dalam baris yang berbeda.
Contoh:sunyi itu lupa
Sunyi ituduka
Sunyi itu kudus
Sunyi itulapus
5.penguatan atau penegasan
Majas penguatan terdiri atas:
1).pleonasme
Adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
(a).semua orang mendongak keatas melihat pertunjukan yang mengerikan.
(b).semua orang yang ada dilantai II agar segera turun ke lantai I.
2).paralelisme
Adalah majas yang biasanya ada didalam puisi.
Contoh:ilmu adalah jembatan masa depan
Ilmu adalah awal kemenangan
Ilmu adalah kesetiaan
3).repetisi
Adalahmajas perulangan kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:(a).kamulah yang kucari,kamulah yang kutunggu,kamulah yang kuharap.
(b).marilah kita sambut pahlawan kita,marilah kita sambut idola kita,marilah kita sambut putra bangsa.
4).tautologi
Adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan.kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
5). sindiran
Majas sindiran terdiri atas:
1).ironi
Adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud menyindir.
Contoh:(a).ini baru anak pintar,setiap hari membolos.
(b).bagus sekali tulisanmu sampai tidak bisa dibaca
2).sinisme
Adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh:(a).lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkahlakumu itu.
(b).perkataanmu itu tidak sopan sekali.
3).sarkasme
Adalah majas sindiran yang paling kasar,majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:(a).dasar kerbau dungu kerja begini saja tidak becus.
(b).mau muntah aku melihat wajahmu itu,pergi sana.
»»  READMORE...